Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Friday, 20 March 2015

Logika Biner

Memahami manusia tidak semudah membaca satu buku. Buku yang habis di halaman terakhir. Dipenuhi kata dan kalimat dengan makna yang kita tangkap lewat bahasa yang kita pahami. Manusia adalah halaman-halaman tak berujung. Konflik dan plot tak terduga, karakter yang tak pernah habis bahasannya. 

Pergerakan antar manusia mengantarkan persentuhan dan gesekan. Terdapat jutaan cara dan rasa bersilangan satu sama lain. Kadang menggesek hati dan melukai perasaan. Timbul dugaan dan prasangka, gunjingan serta keluh kesah. Pun menghadapi makhluk satu bernama manusia akan selalu mengajak kita berkelana. Jauh menuju kedalaman hidup jika dan hanya jika kita mau memikirkannya sejenak.

Mereka tak memahamiku, begitu kata kita.
Mereka tak mau mendengarkan penjelasan yang sudah kukatakan.
Mereka menganggapku begini dan begitu.

Kita pun disibukkan memikirkan apa yang mereka pikirkan tentang kita. Melelahkan bukan?

Dunia ini tidak hitam putih. Tentu saja tidak tersusun dari dua kutub semata. Bukan pula hanya berisi bilangan biner satu dan nol saja.

Monday, 27 May 2013

Guru Galau, Pendidikan Kacau

Galau.
Bukan karena urusan hati.
Tapi hati ini memang kesel setengah mati!
Seorang senior akhirnya mengundurkan diri dari sebuah perguruan tinggi swasta tempat dia mengabdi selama 6 bulan. Begitu banyak kebohongan, manipulasi, suap dan korupsi untuk selembar kertas berlabel ijazah. Lembar kertas yang dijual oleh lembaga yang konon punya misi untuk mencetak para abdi pendidikan.

Siang ini, sambil menyantap mi ayam, ku dengar hal serupa.

Galau.
Lagi-lagi bukan karena sekedar urusan hati.
Tapi hati ini ingin berteriak kencang sekali!
DUA, tak cukup satu temanku.
Mereka menghela nafas berat saat berkisah tentang rapat koordinasi mengatur kebohongan, mengarang jawaban atas pertanyaan tim penilai.
Miapah? begitu tanya anak jaman sekarang!
Demi sebuah nilai akreditasi.
Konon agar mahasiswa mereka bisa mendapat ijazah resmi, diakui.
Lebih-lebih lagi agar prodi mereka tidak digusur pergi.
Mereka berpikir ulang untuk bertahan.
Tapi jika tak tinggal, relakah kalau mahasiswa diajar dosen abal-abal.
Yang tak bisa membimbing mahasiswa merumuskan penelitian.
Yang tak mungkin dibebani untuk membekali manusia yang kelak terjun sebagai abdi pendidikan.

Tenggelam bersama sistem yang demikian atau menyingkir.
Keduanya bak simalakama, tetap perih rasanya.

Galau.
Ku ingat lagi percik semangat perubahan,
yang diletuskan oleh satu, dua, dan semoga nanti berjuta guru yang tetap bersemangat berjuang,
yang digulirkan oleh satu, dua, dan semoga nanti beribu dosen yang teguh memegang prinsip mereka,
bahwa pendidikan tak bisa ditangani sembarangan,
bahwa pendidikan adalah investasi masa depan,
bahwa anak cucu kita punya harapan,
untuk mengenyam sebuah pembelajaran dalam sistem pendidikan yang mapan,
dengan abdi yang berdedikasi, pemerintah yang peduli, dan tanpa manipulasi lagi!

27.11.2012

Thursday, 23 May 2013

Pengalaman Juru Ketik

Menjadi seorang freelance (baca: pengangguran) seperti saya lakoni sekarang ternyata berasa gado-gado. Salah satu pengalaman yang saya alami adalah menjadi juru ketik beberapa naskah. Setelah pekerjaan mengetik selesai, ternyata dapat tawaran untuk melakukan parafrase naskah.

Parafrase itu kurang lebih berarti menulis ulang sebuah naskah dengan bahasa dan sudut pandang yang berbeda dari naskah aslinya. Sepertinya rekan yang mempekerjakan saya cukup puas dengan hasil ketikan dan parafrase saya. :D

Nah, beberapa hari yang lalu saat saya menyetorkan hasil ketikan saya, Mbak Bos dan saya berbincang sebentar. Sebagai guru bahasa Inggris dan juga penulis, beliau bercerita tentang pengalaman bergelut dengan para naskah.

Ceritanya bahwa pekerjaan parafrase bukanlah hal yang mudah. Bahkan ada beberapa guru bahasa kita yang tidak cakap melakukan parafrase. *saya melongo*
Mbak Bos bercerita bahkan tak semua guru bahasa kita suka membaca. *tambah melongo*
Cerita berlanjut tentang kebiasaan membaca. Jujur setiap kali saya setor tulisan ke rumah Mbak Bos, yang menarik perhatian selalu rak buku yang di ruang tamu. Penuh dengan buku dari berbagai genre. *mupeng*

Sunday, 12 May 2013

Pencerahan 13:8

Seringkali suatu hal membebani pikiran terus-menenus. Meminta waktu. Mendesak di antara lintasan kejadian sehari-hari. Meski kadang tersembunyi, suatu saat dalam sunyi ia akan muncul dan menyesakkan hati. Begitulah yang saya alami beberapa waktu yang lalu.

Saya terbatas. Keterbatasan, ketidaksempurnaan, dan ketidaknormalan yang terjadi di luar kehendak dan kemampuan saya. Sesuatu yang seharusnya dimiliki semua yang normal. Sayangnya, hal ini sepertinya (mungkin) bisa memupus kemungkinan saya untuk memperoleh kebaikan jangka panjang di akhirat kelak.
Sempat terpikir apakah saya telah diperlakukan tak adil oleh-Nya. Astaghfirullah.

Di saat seperti itu yang dibutuhkan adalah cahaya. Sebuah jawaban yang akan melegakan.
Jum'at pekan lalu akhirnya saya mendapatkan jawaban itu.

Seperti yang pernah dituliskan Tere Liye, penjelasan akan datang dari orang yang tepat dan di waktu yang tepat pula.
Seorang yang baru saya kenal beberapa bulan, yang saya hormati pendapatnya mengatakan hal ini pada saya,"Bila Allah menutup pintu kebaikan yang itu, maka sesungguhnya kita diberikan kesempatan untuk mengumpulkan kebaikan jangka panjang lewat cara lain."

Saya tersentak mendengarnya. Saya terdiam. Saya tersadar.

Monday, 4 March 2013

Unfriend

Bukan jarak dan ruang yang memisahkan manusia, tapi waktu.
Begini, usia kita terlewati bersama banyak orang. Buatlah pengecualian untuk keluarga, kita telah menghabiskan banyak waktu bersama teman sekolah, teman bermain,teman organisasi, atau kenalan untuk jangka waktu tertentu.Tapi dari sekian banyak orang tersebut, berapa yang sebenarnya menetap dan meninggalkan bekas yang masih kita ingat hingga sekarang?

Tak bisa dihindari, waktu kadang mengikis ingatan kita tentang mereka. Hanya menyisakan samar wajah dan mungkin sepotong nama. Di jaman digital seperti ini, laman facebook menyederhanakan tugas memori kita. Cukup dengan beberapa kali klik, kita bisa tahu kabar teman lawas kita. Dimana dia tinggal, apakah dia sudah bekerja atau masih melanjutkan studi, ataupun status hubungannya. Meski bukan stalker, tak jarang kita iseng ingin tahu apakah teman yang lama tak jumpa di dunia nyata telah menikah, punya anak, atau masih asyik dengan kesendirian seperti saya. :D
Tak ingin jumpa dengan orang tertentu di dunia maya? Gampang, abaikan saja permintaan sebagian teman ataupun mentionnya. Bila terganggu dengan status atau tweet yang aneh-aneh, bisa langsung unfriend ataupun unfollow. Sederhana.

Meskipun jejaring sosial terlihat menyederhanakan jaringan antar manusia, tapi menurut saya hubungan yang melibatkan makhluk kompleks semacam manusia tak pernah sesederhana tombol-tombol di laman internet. Kesimpulan ini hanya semacam hipotesis yang dengan senang hati saya ubah bila kemudian hari patah oleh argumen yang lebih kuat. Sebab ini kan hanya berdasarkan beberapa pengalaman pribadi saya.

Monday, 19 September 2011

Lelaki bernama angin

Hanya melalui dunia tak nyata aku mengenalnya. Sebuah nama dengan kisah tak terhingga. Dalam langkahnya dia bawakan aku benang sari yang menyapa putikku. Tunas itu tumbuh di sebuah kotak istimewa di sudut hatiku. 

Alir deras kalimat darinya memupuk kelopak bungaku untuk berkembang. Tiap tinta yang ia teteskan menjadi kata membuahkan keharuan, membuncahkan kekaguman. 

Gila. Betapa memabukkan rasa ini. Meracuniku hingga ke tulang dan nadi. Menidurkanku dalam keindahan mimpi.

Indah terasa saat semilirnya menyapa.
Apakah ia nyata?
Gurat semangat tumpahan karyanya menggerakkan hatiku padanya.
Apakah ia benar ada?

Dia yang bernama angin, 
aku menunggu kisah yang bisa ku kenang lagi dan lagi
agar aku bisa menyimpannya sebagai hadiah
Dia yang bernama angin,
aku menanti bisik cerita sisi hidup yang belum aku jelajahi
agar aku belajar menapaki jejaknya yang indah

Mengapa ia harus menyapaku? 
Mengapa ia begitu indah untuk diabaikan?

Akal sehatku berbisik. Mungkin senyumnya tak hanya untukku. Mungkin ia hanya angin yang berbembus sejenak sebagai bagian perjalanan dan segera berlalu bersama waktu. Fitrah angin, begitu ujar hatiku. Ah, aku hanya bunga kecil yang sedang tumbuh. Ku kokohkan akarku, agar tidak tercerabut saat angin menjadi badai. 

18.09.2011
Ditemani langit biru tanpa mendung di Oudegracht.
Afatsa
------------------------------------------------------------------------
Terima kasih, wahai angin. Kau telah membawa sepotong kisah istimewa untukku meski mungkin hanya sejenak.

Saturday, 27 August 2011

Mozaik

Aku masih di tahun terakhir SMP (saat itu masih disebut SLTP) ketika bersentuhan dengan novel Muara Kasih karya Muthmainnah. Selain cerita inti yang menginspirasi, novel ini membuatku bersentuhan dengan atmosfer Australia. Sejak itulah aku menanam sebuah mimpi untuk bisa menjejakkan kaki di negeri kangguru. Tahun berlalu, mimpi itu hanya teronggok di sudut hati.

Pertengahan tahun 2008, dua orang mahasiswa ikut berkerumun di keramaian orang di depan sebuah toko buku di Surabaya. Mereka rela ikut antri dan berdesakan untuk mendapatkan tanda tangan dari penulis yang sedang naik daun saat itu, Andrea Hirata. Mereka pun berhasil mendapatkan tanda tangan untuk buku Sang Pemimpi dan Edensor. Salah satu dari mereka adalah aku.

Dua karya dari seri Tetralogi Laskar Pelangi itu tak hanya memperkenalkan semangat pantang menyerah, tapi juga memupuk kembali keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru yang akan memperkaya kehidupan kita. Mimpi ku berkembang lagi. Mimpi untuk bisa menuntut ilmu di negeri orang, dimanapun itu. Ini bukan tentang mengumpulkan atribut kebanggaan untuk dipertontonkan bahwa lulusan luar negeri akan lebih hebat dari lulusan negeri sendiri. Sungguh bukan itu. Mimpi ini hanya tentang rasa ingin tahu akan luasnya dunia, perbedaan bahasa, serta gesekan budaya. Pengalaman yang diibaratkan oleh Andrea Hirata sebagai kepingan mozaik –puzzle–  yang akan memperkaya hidup kita, dan mungkin disana kita bisa bercermin siapa kita sebenarnya.

Edensor --salah satu dari tetralogi Laskar Pelangi-- mengisahkan bagaimana Ikal menemukan potongan mozaik dirinya dalam pengembaraanya di Eropa. Akankah ku temukan kepingan mozaikku sendiri?

Tuesday, 5 January 2010

Menemukan Kebanggaan

Pada titik tertentu, kita akan pernah mengalami perasaan ‘tak berharga’. Kita merasa rendah diri, bukan siapa2, orang yang keberadaannya dianggap tak berarti bagi dunia. Semua hal itu muncul karena kita merasa tak pernah meraih sesuatu yang patut dibanggakan.

Tak satupun di antara kita yang tak bangga jika dipuji atau dihargai karena kita telah bekerja keras meraih sesuatu. Lantas, apakah kita harus mengais pujian dan penghargaan untuk bangga pada diri sendiri? Ataukah kita mempertontonkan siapa kita pada semua orang untuk mendapatkan kebanggaan?

Salah satu sahabatku membantuku menjawab pertanyaan itu dan menemukan jalan ke arah kebanggaan. Jalannya sederhana, yaitu melihat lebih dekat diri sendiri dan menemukan ukuran kebanggaan kita.

Contoh:
Kita mungkin mencapai garis finish yang sama dengan orang lain, tapi temukanlah kebanggaan di sepanjang perjalanan menuju garis akhir. Dunia boleh menganggap pencapaian kita tak berbeda dengan lainnya, tapi kita sendiri yang harus mencari perbedaan itu.

Saturday, 18 April 2009

The Sign

Orang selalu mengatakan waktu mengubah segalanya, tapi sebenarnya kitalah yang harus mengubahnya sendiri.
Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acap kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

Lantas, bagaimana kita tahu pintu mana yang terbuka untuk kita?

Dulu aku juga sering bertanya-tanya ketika dihadapkan pada masalah pengambilan keputusan. Salah seorang sahabat kemudian bilang bahwa akan ada tanda keputusan mana yang harus kita ambil. Saya lalu bertanya, tanda berupa apa? Dia juga tak bisa menjelaskannya.

Namun, ketika aku akan mengambil suatu keputusan yang beberapa waktu menggangguku, aku kemudian mengirim sms padanya.
”aku mengambil keputusan ini, pertimbanganku begini, aku mengerti tanda itu.”
Tanda yang akan menuntun kita pada kemantapan hati dan keyakinan. Mungkin berasal dari saran orang lain atau kejadian yang menimpa kita. Sejak saat itu, saku mulai belajar mengenali tanda.

Ternyata tanda tak hanya berguna dalam pengambilan keputusan. Pernah suatu hari aku dan sahabatku begitu ragu akan keputusan yang telah kami buat, ragu atas kemampuan kami, kami limbung karena begitu banyak hambatan yang akan menghadang. Hari itu kami mengikuti pertemuan yang digagas oleh dosen kami untuk sharing pengetahuan. Di akhir pertemuan, beliau mengutip perkataan seorang tokoh.
”ketika kita dihadang, bersyukurlah, karena di sanalah letak ilmu. Seringkali kreativitas itu muncul ketika kita dihadang.”
Beliau kemudian menambahkan pendapatnya bahwa halangan itu bermuara pada dua hal, kreativitas atau menyeret kita pada keputusasaan. Aku menoleh pada sahabatku, tanpa mengatakan apapun kami saling mengerti. Entah kenapa, ungkapan dosen kami jadi semacam tanda yang dikirim di saat yang tepat untuk membisikkan semngat pada kami agar tidak menyerah. Dan kami memang tidak menyerah, tak terpatahkan, seperti iklan shampo di televisi. Unbreakable.

-insomnia-
17 aPril 2009 00:11
Di kamar My Partner In Crime (WD) sekalian pinjam komputer.