Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts

Friday, 27 March 2015

Titik Potong Dua Pasang Sepatu


Sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus. Sayangnya tidak semua sepatu terlahir dengan takdir yang bagus, kawan.

Aku lahir dengan penerimaan. Berbentuk seperti sepatu untuk sepakbola namun tak berduri membuatku sepenuhnya sadar diri. Sepasang kaki yang memilihku nanti mungkin menjadikanku kawan saat berolahraga. Kalau sedikit lebih beruntung aku bisa sepenuhnya mengabdi sambil merasakan suasana pusat kebugaran mewah.
Nyatanya perjalanan dunia seringkali tak tertebak. Kaki-kaki kecil sekarang mengetukkanku tak sabar di lantai dingin Utrecht Central Station. Beragam pasang sepatu melintas tak peduli. Berpasang sepatu berlalu tanpa mengindahkanku. Mereka melangkah ke tangga menuju peron kereta. Beberapa sepatu boot berhak tinggi dengan berbagai gaya menatapku penuh pertanyaan.
Sebuah penantian, kawan. Begitulah jawabku pada tanya mereka yang terlontar lewat kebisuan. Aku masih terantuk-antuk di lantai. Menandai cemas, gugup, dan ragu sepasang kaki dalam diriku.
Beberapa jeda waktu kemudian ketukan yang dari tadi mengguncangku berhenti tiba-tiba. Seluruh berat tubuh pemilik sepasang kaki kecil itu terfokus padaku. Ia berdiri menyambut seseorang yang ia nantikan.
Pria berkaki besar itu mengenakan boot hitam yang aku yakin berharga mahal. Boot hitam menyapaku ramah. Sebaliknya aku merasa rendah diri.

Sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus. Tapi apa yang akan terjadi jika dua pasang sepatu berbeda kasta bertemu?

Monday, 25 August 2014

LUPA

Rasanya aku sudah lupa, bagaimana menulis bisa menyembuhkan luka
membekukan kesedihan dalam kotak kemuraman,
menandainya sebagai bagian dari sebuah perjalanan,
untuk kemudian mengambil harapan dan menatap ke depan

Sepertinya aku sudah tak ingat, bagaimana kata menyalakan tawa
menggenggam erat kisah suka dalam kotak kenangan,
menyatukannya sebagai pengingat atas kebahagiaan,
untuk sekedar menggeleng lagi karena polah tak terduga yang mulai hilang dari ingatan,

Saatnya merangkai kata lagi,
menandai titik-titik hidup dalam lembaran hari.

25.08.2014
afatsa
-----------------------------------------------------
Mari menulis blog lagi!

Tuesday, 4 June 2013

Oase Dari Seorang Tukang Becak

Sudah beberapa kali aku melihat lelaki tua itu. Menurutku ia sudah terlalu tua untuk bekerja sebagai tukang becak. Entah kenapa, tapi ia menarik perhatianku saat dhuhur tiba. Becak miliknya menjadi anomali di antara jajaran mobil yang terparkir di depan masjid tempat sholat berjamaah para pegawai kantor sekitar. Dengan segala kesederhanaannya becak itu diparkir di bawah pohon tepat di depan pintu masjid khusus perempuan.

Tak bosan aku mengamatinya membawa sarung dan peci menuju tempat wudhu. Di lain hari aku baru memperhatikannya setelah ia selesai sholat dan bersiap kembali mencari penumpang. Dalam dekapan terik kota pahlawan, aku serasa menemukan oase.

Sunday, 31 July 2011

Individualis VS Mandiri

Mempelajari manusia dan budaya memang tidak akan pernah ada habisnya. Seseorang pernah berkata padaku, "Individualis (ataupun keegoisan) memiliki beda tipis dengan mandiri, seperti perbedaan makhluk sosial dan manja". Pernyataan itu mungkin agak berlebihan dan kontroversial, tapi sedikit banyak bisa berlaku dalam beberapa konteks.

Sosok masyarakat individualis sering dilekatkan pada masyarakat Eropa. Benarkah demikian? Sejauh pengalamanku merantau di negeri Tulip ini, nggak bisa dipungkiri bahwa prinsip "hidupku milikkku, hidupmu milikmu, dan tidak selayaknya saling mengganggu" sangat terasa. But in some extent, hal tersebut tidak sepenuhnya benar (silahkan tengok tulisan berikut). Jika sebutan sangat individualis terpatahkan dengan satu counter example, lantas bagaimana dengan kemandirian orang2 Eropa (khususnya Belanda, lebih spesifik lagi warga Utrecht)?.

Kantin kampus

Suasana kantin kampus
Aku jadi teringat hari pertama menginjakkan kaki di Utrecht. Acara jamuan makan siang di kantin kampus membuatku bersentuhan dengan pola hidup mandiri bule. Bener2 100 persen SELF SERVICE. Kita harus ambil baki, piring (kalau mau ambil makanan yang tidak dikemas dalam wadah, karena beberapa jenis makanan seperti salad sudah dikemas dalam mangkuk), gelas (jika kita ingin minum selain minuman kemasan), cangkir bertangkai untuk sup. Urusan menu tinggal pilih, ada roti (sebagian besar keras, hehehe), sup (belom pernah ngrasain dan  belum kepingin,hehehe), kroket (dengan bermacam isi), buah, jus (disajikan lewat mesin, jadi tinggal pencet tombol), kentang goreng dan berbagai sandwich (saos dan mayones disajikan terpisah dalam sachet,hehe).

Sunday, 19 June 2011

Anomali

Belajar itu tak hanya melulu menekuni bidang ilmu tertentu di bilik-bilik kelas ataupun laboratorium. Banyak detail di sekitar kita yang jika kita meluangkan sedikit waktu untuk menoleh dan mencerna, maka akan ada hal baru yang kita pelajari. Meski kadang terlihat begitu sepele, tapi suatu saat itu bisa berarti sesuatu yang extremly different dari yang kita pahami selama ini.

Berada di sebuah negeri asing membuatku bersinggungan dengan hal-hal baru yang sedikit aneh jika dipandang dari kacamata pengalaman hidup di negeri sendiri. Anomali, begitulah sebutan untuk sesuatu yang di luar kebiasaan.

Kalian salah tempat jika berharap sesuatu yang akan aku ceritakan adalah sesuatu yang wah. Ini cuma sekedar berbagi sedikit potret anomali yang ku temui di kota tua Utrecht.

Sunday, 27 February 2011

Utrecht: The exotic place to live

Aku tinggal di kota Utrecht, yang merupakan kota terbesar ke empat di negeri Belanda. Bangunan yang telah kujumpai sebagian besar merupakan bangungan bergaya klasik dengan jendela yang tinggi. Jika kalian penyuka Harry Potter, maka lorong-lorong kota Utrecht mirip seperti Diagon Alley. Bagi yang belum pernah nonton film HP atau baca novelnya, aku akan berikan ulasan singkat. Bangunan rumahnya tinggi, bahkan sampai lantai tiga. Atap rumah sebagian besar berbentuk lancip. Jalanan perumahan terbuat dari batako yang lebih sering berwarna merah. Saat penghujung musim dingin seperti saat ini, setiap ruas jalan selalu basah.


Salah satu ruas gang di Oudegracht

Aku dan kedelapan teman IMPOME tinggal di lingkaran pusat kota Utrecht. Kami tinggal di daerah Oudegracht. Nama tersebut berarti terusan lama. Kalau kalian cari di sang pencari bernama Google, maka kalian akan mendapatkan informasi bahwa daerah ini dikelilingi kanal yang indah, dan itu benar. Setiap kali aku melongokkan kepala dan melihat dari jendela kamarku, maka akan terlihat jembatan yang di bawahnya mengalir sungai. Sungai yang mengalir sepanjang kanal berwarna kehijauan, tapi tentu saja bebas dari sampah. Setiap sekitar 100 meter, bisa ditemukan jembatan yang menghubungkan sisi kanan dan kiri kanal.



Jembatan Kanal

Bangunan yang berdiri di sekitar kanal serta lalu lalang manusia yang jarang berambut hitam memberikan daya magis tersendiri. Ketika malam tiba dan suasana sekitar telah sepi, aku bisa mendengar jelas percakapan dua orang dengan bahasa yang sama seka
li tak kumengerti. Lalu aku menyadari bahwa meskipun sebagian besar orang Belanda bisa berbahasa Inggris, mereka tetap tidak melupakan bahasa ibunya.

Alamat tempat tempat tinggal kami adalah Lange Rozendaal No.13. Menurut pemilik rumah, bangunan di gang ini telah ada sejak abad ke 19. Meskipun telah beberapa mengalami renovasi, kami masih mendapati beberapa rumah mempertahankan cerobong asap mereka. Salah seorang temanku berkomentar ketika dia berada di gang ini, dia merasa seperti Mary Jane saat dikejar penjahat dan kemudian ditolong oleh Spiderman. Imajinasi yang menarik bukan?

Ujung gang Lange Rozendaal

Tempat kami tinggal bisa dibilang termasuk lingkaran pusat kota karena hanya dengan berjalan kaki, kami bisa mencapai Dome Tower Of Utrecht. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju Dome Tower banyak sudut-sudut indah yang sayang untuk dilewatkan. Mulai dari jembatan dan pohon-pohon yang tak berdaun saat musim dingin, hingga deretan bermacam toko yang berlampu redup. Toko-toko tersebut tidak sedikit yang menulis kata Gratis (silahkan cek di google terjemahan untuk tahu pengucapan versi aslinya) dan Korting. Dari situlah aku tahu bahwa bahasa kita mengadopsi bahasa bangsa yang sempat “mampir” selama 350 tahun itu.