Saturday, 23 April 2016

Lelaki Pesisir

Ia menyisir rambutnya yang berantakan. Garis matanya yang agak sipit itu semakin memicing melawan sengat matahari. Tapi senyumnya mengembang, tak surut.

Desir angin, birunya langit, dan bias biru laut utara Jawa menyaksikannya berkisah. Tentang nelayan bersiap menjemput tangkapan. Sesekali ceritanya disela alunan musik dangdut koplo meliuk-liuk dari kapal nelayan yang berangkat. Tawa kami terburai.

Kami berdiri cukup dekat tapi juga cukup jauh. Ia masih melanjutkan kisahnya tentang pertarungan nelayan, jenis-jenis jaring yang digunakan saat menjala makhluk-makhluk laut yang berakhir di piring kita. Aku tak bisa mengingat semuanya, tapi mendengarnya bercerita saja sudah membuatku bahagia.

***

"Sederhana. Satu kata itu mewakilimu di mataku," tulisnya suatu hari.

Sekarang aku menyadari bahwa ternyata caranya menatap dunia yang sebenarnya sederhana. Sesuatu yang bisa dijalani dan dipermudah tak perlu dipersulit.

Wednesday, 9 March 2016

Jelang Gerhana

Hiruk pikuk gerhana besok sama sekali tak menggangguku. Tiba-tiba ada percakapan meminta ruang di pikiranku.

Ini Maret kelima, Pang. Sudah lima kali kita melewatinya. Aku baru menghitungnya sekarang. Empat Maret terlewati saat kita berada di titik peta yang berbeda. Dan kali ini kita berada di titik yang sama.

Tak pernah sedikitpun aku mengira akan begini ujung percakapan kita. Di luar buku, film, musik, dan gagasan-gagasan, nyatanya ada hal lain tumbuh tanpa kita sadari.

Kata salah satu penulis favoritku, cinta kadang tumbuh dengan cara yang amat ganjil, di tempat yang keliru.

Selama ini aku menjadi pendengarmu. Memperbincangkan dia yang tengah kamu perjuangkan. Tak kurang dari dua kali Maret kita habiskan untuk bertukar bincang. Hey, aku sudah bosan. Kalian tak kunjung menemukan kepastian.

Menjelang gerhana di Maret kelima. Aku menyadari bahwa kekesalanku tak lebih karena cemburu. Jumawa bahwa aku bisa saja menempati posisinya. Jika aku memberimu pilihan, akankah kamu mengubah arah halauan? Sayangnya pertanyaan itu hanya terhenti di tenggorokan.

Aku ingin memberitahumu satu hal. Kamu tahu ada yang lebih buruk dari patah hati? Ada, yaitu ketakutan untuk jatuh hati, karena sudah pasti patah hati jika itu terjadi. Pasti akan kalah jika itu benar-benar terjadi. Dan aku jelas takut jatuh hati padamu.

Monday, 29 February 2016

STORY BLOG TOUR 2, Episode 12: Cinta Tak Begini

Revan menuntunku pelan meninggalkan komplek pemakaman. Suasana sedih dan suram memenuhi udara, seolah mengikuti meski langkah kami telah menjauh.

….

"Hati-hati, sayang," nada khawatir terdengar dari Revan saat membukakan pintu mobil untukku.

Tubuhku masih merasakan sakit. Lelah dan berat sekali rasanya. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu. Aku mengalihkan perhatianku pada jalanan yang kami lewati. 

Tepat saat kami melintasi sebuah galeri lukisan di seruas trotoar, aku berguncang mengingat sesuatu. 

"Are you okay, sweetheart?"

Aku menoleh dan menatap mata Revan. Cemas. Ia sungguh-sungguh cemas. Aku mengangguk.

Gambar-gambar, foto, musik, rasa sakit dan lelahku. Ingatan-ingatan berkelebat cepat. Membangunkan kesadaranku perlahan. Kesadaran yang membuatku takut dan sedih.

Revan, mengapa kisah cinta kita harus begini. Dari ratusan pasang kekasih, mengapa aku harus mencintaimu. Mengapa kau mencintaiku begini. Airmataku luruh.

***

"Sebaiknya kamu istirahat saja. Mau aku buatkan teh melati? Nanti kita bisa minum bersama. Mungkin aku bisa menghiburmu agar kamu tidak sedih lagi. Hmm?" Revan mendudukkanku di sofa ruang tengah.

"Aku ingin pulang. Bukankah tidak seharusnya…aku…di..sini…?" tanyaku ragu.

Revan menghentikan langkahnya menuju dapur lalu berbalik. Wajahnya kaku menahan marah. Pandangannya jatuh ke arah aku menautkan kedua tanganku erat, di atas pangkuanku. Tiba-tiba wajahnya melunak.