Friday, 27 March 2015

Titik Potong Dua Pasang Sepatu


Sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus. Sayangnya tidak semua sepatu terlahir dengan takdir yang bagus, kawan.

Aku lahir dengan penerimaan. Berbentuk seperti sepatu untuk sepakbola namun tak berduri membuatku sepenuhnya sadar diri. Sepasang kaki yang memilihku nanti mungkin menjadikanku kawan saat berolahraga. Kalau sedikit lebih beruntung aku bisa sepenuhnya mengabdi sambil merasakan suasana pusat kebugaran mewah.
Nyatanya perjalanan dunia seringkali tak tertebak. Kaki-kaki kecil sekarang mengetukkanku tak sabar di lantai dingin Utrecht Central Station. Beragam pasang sepatu melintas tak peduli. Berpasang sepatu berlalu tanpa mengindahkanku. Mereka melangkah ke tangga menuju peron kereta. Beberapa sepatu boot berhak tinggi dengan berbagai gaya menatapku penuh pertanyaan.
Sebuah penantian, kawan. Begitulah jawabku pada tanya mereka yang terlontar lewat kebisuan. Aku masih terantuk-antuk di lantai. Menandai cemas, gugup, dan ragu sepasang kaki dalam diriku.
Beberapa jeda waktu kemudian ketukan yang dari tadi mengguncangku berhenti tiba-tiba. Seluruh berat tubuh pemilik sepasang kaki kecil itu terfokus padaku. Ia berdiri menyambut seseorang yang ia nantikan.
Pria berkaki besar itu mengenakan boot hitam yang aku yakin berharga mahal. Boot hitam menyapaku ramah. Sebaliknya aku merasa rendah diri.

Sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus. Tapi apa yang akan terjadi jika dua pasang sepatu berbeda kasta bertemu?

Wednesday, 25 March 2015

Jar of Light

walk with me through the night,
without an armour you're still my lovely knight,

those jars stand as a guide,
along with the grass in that side,

cold and warm find their fight,
to win which part of them stay inside,

just walk with me tonight,
hold this jars of light so tight,

yet tommorow save its mistery,
like we try to heal our misery,

one jar in your hand and another in me,
will they let us see the sun rise as we should be.

afatsa
23.03.2015


Free translation by Doddy R

Toples Cahaya

Berjalanlah denganku menembus malam
Meski tak berpelindung kamu tetap ksatriaku tercinta

Toples toples berdiri sebagai penunjuk
Bersama sepanjang ujung tepian berumput

Dingin dan hangat menemukan perjuangan
demi memenangkan bagian manakah dari mereka yang menetap tinggal di dalam diri

Berjalanlah bersamaku malam ini
Pegangilah toples cahaya ini erat-erat

Esok pun masih menyimpan misteri
Seperti kita yang mencoba menyembuhkan luka hati

Satu toples di tanganmu dan satu padaku
Akankah mereka mengijinkan kita menyaksikan terbit matahari seperti seharusnya

#malamnarasigambarOWOP
#oneweekonepaper

Friday, 20 March 2015

Logika Biner

Memahami manusia tidak semudah membaca satu buku. Buku yang habis di halaman terakhir. Dipenuhi kata dan kalimat dengan makna yang kita tangkap lewat bahasa yang kita pahami. Manusia adalah halaman-halaman tak berujung. Konflik dan plot tak terduga, karakter yang tak pernah habis bahasannya. 

Pergerakan antar manusia mengantarkan persentuhan dan gesekan. Terdapat jutaan cara dan rasa bersilangan satu sama lain. Kadang menggesek hati dan melukai perasaan. Timbul dugaan dan prasangka, gunjingan serta keluh kesah. Pun menghadapi makhluk satu bernama manusia akan selalu mengajak kita berkelana. Jauh menuju kedalaman hidup jika dan hanya jika kita mau memikirkannya sejenak.

Mereka tak memahamiku, begitu kata kita.
Mereka tak mau mendengarkan penjelasan yang sudah kukatakan.
Mereka menganggapku begini dan begitu.

Kita pun disibukkan memikirkan apa yang mereka pikirkan tentang kita. Melelahkan bukan?

Dunia ini tidak hitam putih. Tentu saja tidak tersusun dari dua kutub semata. Bukan pula hanya berisi bilangan biner satu dan nol saja.