Sepatu yang bagus akan
membawamu ke tempat yang bagus. Sayangnya
tidak semua sepatu terlahir dengan takdir yang bagus, kawan.
Aku lahir dengan penerimaan. Berbentuk seperti sepatu
untuk sepakbola namun tak berduri membuatku sepenuhnya sadar diri. Sepasang
kaki yang memilihku nanti mungkin menjadikanku kawan saat berolahraga. Kalau
sedikit lebih beruntung aku bisa sepenuhnya mengabdi sambil merasakan suasana
pusat kebugaran mewah.
Nyatanya perjalanan dunia seringkali tak tertebak.
Kaki-kaki kecil sekarang mengetukkanku tak sabar di lantai dingin Utrecht Central Station. Beragam pasang
sepatu melintas tak peduli. Berpasang sepatu berlalu tanpa mengindahkanku.
Mereka melangkah ke tangga menuju peron kereta. Beberapa sepatu boot berhak
tinggi dengan berbagai gaya menatapku penuh pertanyaan.
Sebuah penantian, kawan. Begitulah jawabku pada tanya
mereka yang terlontar lewat kebisuan. Aku masih terantuk-antuk di lantai.
Menandai cemas, gugup, dan ragu sepasang kaki dalam diriku.
Beberapa jeda waktu kemudian ketukan yang dari tadi
mengguncangku berhenti tiba-tiba. Seluruh berat tubuh pemilik sepasang kaki
kecil itu terfokus padaku. Ia berdiri menyambut seseorang yang ia nantikan.
Pria berkaki besar itu mengenakan boot hitam yang aku
yakin berharga mahal. Boot hitam menyapaku ramah. Sebaliknya aku merasa rendah
diri.
Sepatu yang bagus akan
membawamu ke tempat yang bagus. Tapi
apa yang akan terjadi jika dua pasang sepatu berbeda kasta bertemu?

