Tuesday, 4 June 2013

Oase Dari Seorang Tukang Becak

Sudah beberapa kali aku melihat lelaki tua itu. Menurutku ia sudah terlalu tua untuk bekerja sebagai tukang becak. Entah kenapa, tapi ia menarik perhatianku saat dhuhur tiba. Becak miliknya menjadi anomali di antara jajaran mobil yang terparkir di depan masjid tempat sholat berjamaah para pegawai kantor sekitar. Dengan segala kesederhanaannya becak itu diparkir di bawah pohon tepat di depan pintu masjid khusus perempuan.

Tak bosan aku mengamatinya membawa sarung dan peci menuju tempat wudhu. Di lain hari aku baru memperhatikannya setelah ia selesai sholat dan bersiap kembali mencari penumpang. Dalam dekapan terik kota pahlawan, aku serasa menemukan oase.

Monday, 27 May 2013

Guru Galau, Pendidikan Kacau

Galau.
Bukan karena urusan hati.
Tapi hati ini memang kesel setengah mati!
Seorang senior akhirnya mengundurkan diri dari sebuah perguruan tinggi swasta tempat dia mengabdi selama 6 bulan. Begitu banyak kebohongan, manipulasi, suap dan korupsi untuk selembar kertas berlabel ijazah. Lembar kertas yang dijual oleh lembaga yang konon punya misi untuk mencetak para abdi pendidikan.

Siang ini, sambil menyantap mi ayam, ku dengar hal serupa.

Galau.
Lagi-lagi bukan karena sekedar urusan hati.
Tapi hati ini ingin berteriak kencang sekali!
DUA, tak cukup satu temanku.
Mereka menghela nafas berat saat berkisah tentang rapat koordinasi mengatur kebohongan, mengarang jawaban atas pertanyaan tim penilai.
Miapah? begitu tanya anak jaman sekarang!
Demi sebuah nilai akreditasi.
Konon agar mahasiswa mereka bisa mendapat ijazah resmi, diakui.
Lebih-lebih lagi agar prodi mereka tidak digusur pergi.
Mereka berpikir ulang untuk bertahan.
Tapi jika tak tinggal, relakah kalau mahasiswa diajar dosen abal-abal.
Yang tak bisa membimbing mahasiswa merumuskan penelitian.
Yang tak mungkin dibebani untuk membekali manusia yang kelak terjun sebagai abdi pendidikan.

Tenggelam bersama sistem yang demikian atau menyingkir.
Keduanya bak simalakama, tetap perih rasanya.

Galau.
Ku ingat lagi percik semangat perubahan,
yang diletuskan oleh satu, dua, dan semoga nanti berjuta guru yang tetap bersemangat berjuang,
yang digulirkan oleh satu, dua, dan semoga nanti beribu dosen yang teguh memegang prinsip mereka,
bahwa pendidikan tak bisa ditangani sembarangan,
bahwa pendidikan adalah investasi masa depan,
bahwa anak cucu kita punya harapan,
untuk mengenyam sebuah pembelajaran dalam sistem pendidikan yang mapan,
dengan abdi yang berdedikasi, pemerintah yang peduli, dan tanpa manipulasi lagi!

27.11.2012

Thursday, 23 May 2013

Pengalaman Juru Ketik

Menjadi seorang freelance (baca: pengangguran) seperti saya lakoni sekarang ternyata berasa gado-gado. Salah satu pengalaman yang saya alami adalah menjadi juru ketik beberapa naskah. Setelah pekerjaan mengetik selesai, ternyata dapat tawaran untuk melakukan parafrase naskah.

Parafrase itu kurang lebih berarti menulis ulang sebuah naskah dengan bahasa dan sudut pandang yang berbeda dari naskah aslinya. Sepertinya rekan yang mempekerjakan saya cukup puas dengan hasil ketikan dan parafrase saya. :D

Nah, beberapa hari yang lalu saat saya menyetorkan hasil ketikan saya, Mbak Bos dan saya berbincang sebentar. Sebagai guru bahasa Inggris dan juga penulis, beliau bercerita tentang pengalaman bergelut dengan para naskah.

Ceritanya bahwa pekerjaan parafrase bukanlah hal yang mudah. Bahkan ada beberapa guru bahasa kita yang tidak cakap melakukan parafrase. *saya melongo*
Mbak Bos bercerita bahkan tak semua guru bahasa kita suka membaca. *tambah melongo*
Cerita berlanjut tentang kebiasaan membaca. Jujur setiap kali saya setor tulisan ke rumah Mbak Bos, yang menarik perhatian selalu rak buku yang di ruang tamu. Penuh dengan buku dari berbagai genre. *mupeng*